
Apabila marmut telah keluar dari lubangnya, maka marmut akan meneliti terlebih dahulu alam di sekitarnya. Bila mana cuaca tampak berawan, dan ia tidak dapat melihat bayangannya sendiri maka marmut akan tetap berada di luar. Ini dianggap oleh orang-orang sebagai pertanda baik.dan berarti bahwa cuaca akan bagus hingga sisa masa selanjutnya pada musin dingin itu. Akan tetapi apabila marmut itu melihat bayangannya sendiri disebabkan oleh cerahnya hari, maka marmut tersebut akan kembali masuk ke dalam lubangnya dan melanjutkan tidurnya sedikit lagi. Menurut kepercayaan orang apabila marmut berbuat seperti itu maka orang masih akan mengalami cuaca dingin yang akan berlangsung kira-kira enam minggu lagi.
Itulah sebabnya media tetap mempertahankan kebiasaan itu, karena cara ini merupakan cerita yang selalu menarik perhatian umum, sekalipun ada sebahagian orang yang tidak percaya akan kenyataan ini. Memang, pada dasarnya tidak ada alasan apapun yang mampu menjelaskan tentang kemampuan marmut meramal cuaca. Marmut tidak memiliki pengetahuan apapun, atau mempunyai kemampuan untuk memperhitungkan hal apapun juga. Sebab kadang kala sang marmut itu malah tidak muncul sama sekali dari lubang mereka pada hari kedua pada bulan Februari setiap tahunnya. Pokoknya tidak tentu, kadang-kadang ia keluar lebih cepat, terkadang pula malah lebih lambat.
Tradisi ini berasal dari Eropa, yang asal mulanya diterapkan oleh binatang landak kecil. Tetapi kaum kolonis yang bermigrasi ke Amerika lalu mengalihkan kepercayaan itu kepada hewan yang bernama marmut. Kisah yang menganut kepercayaan yang sama diterapkan pula kepada binatang beruang dan masih tersebar luas di negeri Hongaria.
Jadi Dapatkah marmut meramal cuaca? Jawabannya tergantung dari pribadi kita masing-masing apakah percaya dengan mitos diatas atau tidak.